Industri percetakan sering dianggap lebih bersih dibandingkan industri kimia atau manufaktur berat.
Padahal, proses pencucian plat, pembersihan mesin, dan penggunaan tinta dapat menghasilkan limbah dengan kandungan logam berat, pelarut, serta senyawa organik tertentu.
Karena itu, pengolahan limbah cair industri percetakan perlu mempertimbangkan sumber dan karakteristik pencemarnya sejak awal.
Mengapa Limbah Cair Percetakan Berbeda dari Limbah Industri Biasa?
Limbah cair industri percetakan bukan sekadar air kotor biasa. Campuran logam berat, pelarut organik, pigmen sintetis, minyak, dan bahan kimia pembersih membuat pengolahannya membutuhkan tahapan yang lebih terarah sebelum masuk ke proses biologis.

Sumber Utama Limbah Cair Industri Percetakan
Beberapa aktivitas produksi yang dapat menghasilkan limbah cair meliputi:
- Pencucian plat dan blanket, yang menghasilkan air buangan bercampur tinta, pelarut, dan deterjen.
- Pembersihan mesin dan rol tinta, yang dapat membawa pigmen sintetis, minyak, serta logam dari bahan tinta.
- Proses film dan plate making, khususnya pada percetakan konvensional, yang dapat menghasilkan sisa developer dan fixer.
- Air bilasan area produksi, yang membawa campuran kontaminan dalam konsentrasi lebih rendah.
Jenis bahan pencemar dapat berbeda pada setiap percetakan. Salah satu penelitian UGM terhadap limbah cair industri percetakan menemukan kadar timbal (Pb) sebesar 656,60 mg/L, minyak dan lemak 15,41 mg/L, serta pH 12 sebelum pengolahan.
Karena hasil tersebut berasal dari sampel penelitian tertentu, kondisi setiap pabrik tetap perlu dibuktikan melalui pengujian laboratorium.
Tahapan Pengolahan Limbah Cair Industri Percetakan yang Benar
Karakteristik limbah menjadi dasar dalam menentukan konfigurasi pengolahan. Secara umum, proses dapat disusun melalui beberapa tahap berikut.

1. Penampungan dan Pemisahan Awal
Limbah dari mesin cetak, area pencucian, dan kegiatan produksi dikumpulkan melalui jalur yang sesuai. Jika terdapat aliran dengan konsentrasi pelarut atau bahan kimia yang tinggi, pemisahan sejak sumber dapat membantu mencegah seluruh aliran tercampur.
Langkah ini juga memudahkan identifikasi sumber pencemar dan membantu menentukan metode pengolahan yang sesuai.
2. Pre-Treatment Fisik
Tahap awal dapat dilengkapi penyaringan untuk menahan sisa tinta kering, serpihan kertas, dan padatan kasar lainnya. Setelah itu, sedimentasi dapat digunakan untuk membantu mengendapkan partikel tersuspensi sebelum air memasuki proses kimia.
Tahap ini mengurangi beban pada unit pengolahan berikutnya sehingga proses dapat berjalan lebih stabil.
3. Pre-Treatment Kimia
Koagulasi dan flokulasi menjadi bagian penting ketika limbah mengandung logam berat atau partikel koloid yang sulit dipisahkan secara fisik. Netralisasi juga diperlukan apabila pH limbah berada terlalu jauh dari kondisi yang sesuai untuk proses lanjutan.
Menurut riset dari berbagai sumber, menggunakan kombinasi kapur aktif Ca(OH)₂, tawas Al₂(SO₄)₃, dan kalsium klorida CaCl₂ untuk mengolah limbah percetakan. Pada kondisi penelitian tersebut, kadar Pb dapat diturunkan hingga 0,08 mg/L.
Hasil ini menunjukkan potensi proses koagulasi-flokulasi, tetapi dosis bahan kimia tetap harus ditentukan berdasarkan karakteristik limbah aktual.
4. Pengolahan Biologis
Setelah kandungan yang berpotensi mengganggu mikroorganisme dikurangi, sisa beban organik dapat diproses melalui sistem biologis.
Biofilter aerob atau MBBR dapat digunakan untuk membantu menurunkan BOD dan COD sesuai kebutuhan desain.
Dengan demikian, proses biologis berfungsi sebagai bagian lanjutan setelah beban pencemar yang menghambat aktivitas bakteri dikendalikan.
5. Pengelolaan Lumpur
Proses koagulasi dan flokulasi menghasilkan lumpur yang mengandung kontaminan hasil pemisahan. Status dan metode pengelolaannya perlu ditentukan berdasarkan karakteristik serta hasil pengujian limbah.
Apabila termasuk Limbah B3, pengelolaannya harus mengikuti ketentuan yang berlaku. PP No. 22 Tahun 2021 mengatur pengelolaan Limbah B3 dan Limbah nonB3 serta menetapkan kerangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Membangun IPAL Percetakan
Sebelum menentukan teknologi dan meminta penawaran, perusahaan sebaiknya menyiapkan beberapa hal berikut:

- Lakukan karakterisasi limbah terlebih dahulu. Uji laboratorium diperlukan untuk mengetahui parameter seperti Pb, Hg, COD, BOD, pH, serta minyak dan lemak sesuai proses produksi yang berjalan.
- Pisahkan aliran limbah sejak sumber. Limbah dengan konsentrasi bahan kimia tinggi sebaiknya tidak langsung dicampur dengan air bilasan umum karena dapat memperbesar beban pengolahan.
- Pastikan vendor memahami pre-treatment kimia. Sistem biologis saja belum tentu sesuai untuk limbah yang mengandung logam berat atau senyawa toksik tertentu.
- Siapkan pengelolaan lumpur hasil pengolahan. Jika hasil pengujian menunjukkan lumpur termasuk Limbah B3, perusahaan perlu menyiapkan mekanisme penyimpanan, pengangkutan, dan pengelolaan sesuai ketentuan.
Baca juga: 5 Komponen Utama dalam Sistem IPAL yang Wajib Anda Tahu!
Butuh Bantuan Membangun Sistem IPAL untuk Percetakan?
PT Ulil Darma Mulia mengerjakan sistem IPAL dan WWTP untuk berbagai jenis industri sejak 2016, termasuk kebutuhan pengolahan yang memerlukan kombinasi pre-treatment dan proses biologis.
Kapabilitasnya mencakup WWTP Equipment dari inlet hingga outlet serta Sludge Treatment seperti Filterpress, Beltpress, dan Multi Disc Screwpress.
Konsultasikan karakteristik limbah cair industri percetakan dan kondisi lokasi bersama tim teknis untuk menentukan sistem yang sesuai.
FAQ
Apakah limbah cair industri percetakan selalu termasuk Limbah B3?
Tidak selalu, karena status limbah perlu ditentukan berdasarkan sumber, karakteristik, jenis zat pencemar, dan hasil pengujian sesuai ketentuan yang berlaku.
Apakah limbah percetakan bisa langsung diolah dengan sistem biologis?
Tidak selalu, terutama jika limbah mengandung logam berat atau senyawa yang dapat menghambat mikroorganisme, sehingga pre-treatment perlu dipertimbangkan berdasarkan hasil karakterisasi.
Apakah limbah produksi percetakan boleh dicampur dengan limbah domestik?
Sebaiknya tidak langsung dicampur karena karakteristik keduanya berbeda dan limbah produksi dapat membawa bahan pencemar yang membutuhkan pengolahan khusus sebelum proses biologis.